11 Jun 2011

Pendidikan tinggi menjadi pabrik pengangguran

Pendidikan tinggi masih menjadi pabrik pengangguran sehingga terjadi pemborosan dana, waktu, dan sumber daya manusia. Untuk itu, pembukaan institusi pendidikan tinggi, terutama program-program studinya, perlu lebih cermat dan berhati-hati.

Hal itu dikemukakan pengamat pendidikan dan Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta, HAR Tilaar, Kamis (14/2). Diwartakan sebelumnya, jumlah sarjana yang menganggur melonjak drastis dari 183.629 orang tahun 2006 menjadi 409.890 orang tahun 2007. Ditambah dengan pemegang gelar diploma I, II, dan III yang menganggur, berdasarkan pendataan tahun 2007 lebih dari 740.000 orang.

Selain itu, Departemen Pendidikan Nasional mencatat jumlah program studi baru tersebut mencapai 761 program studi di 167 perguruan tinggi. Jauh lebih tinggi dari jumlah program studi yang ditutup pada tahun yang sama, yakni 113 program studi di 64 perguruan tinggi.

”Pendidikan tinggi cenderung menjadi ’pabrik’ pengangguran. Itu tidak lepas dari kualitas pendidikan. Makin tinggi pendidikan, makin tinggi penganggurannya,” ujarnya.

Pembukaan program studi baru harus cermat, selektif, dan jelas manfaatnya. ”Saat ini pendidikan tinggi itu sudah mahal, lulusannya jadi penganggur pula. Ini sangat berbahaya karena akan memengaruhi persepsi masyarakat terhadap arti dan manfaat pendidikan,” ujarnya.

Harus cermat

Secara terpisah, pengamat pendidikan dari Koalisi Pendidikan, Lodi Paat, mengatakan, pembukaan program studi atau jurusan baru harus benar-benar mempertimbangkan kurikulum dan kualitas pembelajaran yang dijalankan. Dengan demikian, lulusannya kompeten serta dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakat. ”Walaupun peminatnya banyak, tidak bisa asal membuka program studi begitu saja. Program tersebut harus berkualitas,” ujarnya.

Indikator kualitas itu antara lain ketersediaan fasilitas dasar seperti pusat sumber belajar seperti perpustakaan, laboratorium, serta relasi antara mahasiswa dan dosen dalam proses belajar-mengajar. Pembukaan program studi yang tidak berkualitas hanya pemborosan waktu, dana, dan energi.

Masih tinggi

Dari Yogyakarta dilaporkan, kualitas perguruan tinggi swasta (PTS) di Yogyakarta masih yang terbaik di Indonesia. Hal ini terlihat dari rasio jumlah mahasiswa dibandingkan dengan jumlah program studi di PTS Yogyakarta yang masih tertinggi dengan rasio 276. Rasio untuk perguruan tinggi negeri secara nasional hanya 250, sedangkan rasio perguruan tinggi swasta di Jakarta adalah 210.

Mahasiswa PTS di Yogyakarta saat ini mencapai 196.080 orang dengan jumlah program studi 529.

”Ini menunjukkan bahwa minat kuliah di Yogyakarta masih lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain,” ujar Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah V DIY Budi Santoso Wignyosukarto.

Budi menambahkan, saat ini juga masih terdapat program studi dengan jumlah mahasiswa kurang dari 30 per angkatan sehingga harus ditutup.

”Saat ini sekitar 30 persen dari 191 program studi diploma III, serta 10 persen dari 288 program studi strata satu masih memiliki mahasiswa kurang dari 30 orang,” kata Budi Santoso. Jakarta, Kompas - (ELN/WKM)



Artikel Terkait:

0 komentar:

Berikan komentar dibawah ini...