8 Jun 2011

Perkembangan industri otomotif di Indonesia



Latar Belakang

Krisis finansial global sejak tahun 2008 yang masih terasa dampaknya hingga kini, telah mempengaruhi kinerja sektor otomotif di Indonesia terutama pada tahun 2009. Menurut laporan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) tingkat produksi dan penjualan mobil 2009 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Tingkat produksi merosot menjadi hanya 464.815 unit pada 2009 dibandingkan tahun sebelumnya 600.628 unit atau mengalami penurunan sebesar 22,6%.

Sedangkan tingkat penjualan melemah 19,9% menjadi hanya 483.548 unit pada 2009. Meski jumlah ini mampu melampaui target yang ditetapkan Gaikindo sebesar 450.000 unit, namun penjualan tidak secerah tahun 2008 yang tercatat 603.774 unit sebagai penjualan tertinggi dalam lima tahun terakhir. Penurunan penjualan ini disebabkan oleh melemahnya nilai Rupiah pada waktu itu, yang menyebabkan kenaikan harga mobil sehingga konsumen menunda untuk membeli mobil.

Selain itu tingginya tingkat suku bunga dari perbankan dan lembaga pembiayaan yang terimbas oleh krisis pembiayaan global menyebabkan sumber pembiayaan untuk pembelian mobil terhambat. Meski demikian sebagian merk besar ternyata pada tahun 2009 berhasil mendongkrak tingkat penjualan seperti merk Toyota, Daihatsu dan Mitsubishi.

Selain itu, penurunan penjualan juga disebabkan oleh menurunnya volume ekspor ke sejumlah negara. Volume ekspor mobil CBU pada 2009 hanya sekitar 56.669 unit atau merosot 43,8% dibandingkan tahun sebelumnya 100.982 unit. Diantara ATPM yang sukses melakukan ekspor yaitu PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) sebagai ATPM Daihatsu mampu mencatatkan ekspor sebesar 31.450 unit pada 2009 lalu. ADM memiliki produk andalan yaitu Gran Max dan Terios yang mampu melakukan penetrasi di pasar Jepang, Afrika Selatan dan Timur Tengah.

Di pasar dalam negeri masih didominasi oleh jenis Multi Purpose Vehicle (MPV). Di segmen ini merk Toyota dengan varian andalannya Avanza dan Inova tetap merajai pasar jauh meninggalkan kompetitornya seperti Xenia dari Daihatsu dan APV dari Suzuki.

Memasuki tahun 2010 pasar mobil mulai bergairah karena ekonomi dunia mulai pulih, sehingga diharapkan penjualan mobil tahun 2010 akan meningkat kembali. Namun tahun 2010 juga memberikan tantangan baru bagi industri mobil nasional yaitu dengan mulai berlakunya perjanjian Asean China Free Trade Area (ACFTA) per 1 Januari 2010. Diperkirakan industri mobil Cina akan makin gencar membidik pasar Indonesia baik dengan melakukan impor dalam bentuk built up, maupun dengan mebangun pabrik perakitan yang mengimpor dalam bentuk CKD (completely knoked down) dengan harga lebih murah.

Struktur industri Kendaraan Bermotor

Karakteristik Industri Kendaraan Bermotor Di Indonesia

Industri Kendaraan bermotor di Indonesia mulai berkembang sejak beroperasi nya ATPM pada awal tahun 1970an yang didukung Keputusan Menteri Perindustrian No. 295/1982 dan No. 428/1987. ATPM berhak untuk merakit, memproduksi dan mendistribusikan produknya di wilayah Indonesia.

ATPM di Indonesia melakukan fungsi ganda yaitu menjadi agen tunggal penjualan mobil serta menjadi produsen kendaraan bermotor.

Pemerintah Indonesia pada awalnya merencanakan ATPM ini akan menjadi embrio bagi perkembangan industri otomotif di Indonesia dengan arahnya adalah terjadinya transfer teknologi dan menghasilkan produk otomotif yang mempunyai kandungan lokal yang tinggi.

Namun setelah 30 tahun program ini tidak berjalan karena ketergantungan terhadap komponen impor masih saja tinggi yang akhirnya berimbas pada harga jual produk otomotif Indonesia menjadi tinggi.

Kondisi Industri manufaktur kendaraan bermotor di Indonesia semakin tidak menentu setelah adanya deregulasi pada tahun 1999, yang membebaskan masuknya produk otomotif dalam kondisi Completely Built Up(CBU), peran ATPM menjadi tidak relevan lagi karena banyak perusahaan non ATPM yang mengimpor mobil CBU yang mereknya sudah dipegang ATPM tertentu sehingga menjadi tumpang tindih.

Setelah pemerintah menyatakan bahwa hubungan ATPM dan Prinsipal dijalankan secara bisnis dan tidak dibutuhkan keterlibatan Pemerintah maka pihak Prinsipal banyak yang akhirnya mengambil alih kegiatan produksi kendaraan bermotor dan menjadikan ATPM hanya sebagai perusahaan distribusi kendaraan bermotor di Indonesia.

Seperti yang terjadi pada Toyota Motor Corp. yang akhirnya mengambil alih kegiatan perakitan pada PT. Toyota Astra Motor (TAM) dan menjadikan TAM hanya sebagai perusahaan yang memasarkan produk Toyota/distributor, dan sejak tahun 2003 kegiatan manufaktur ditangani oleh PT. Toyota Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang 95% dimiliki oleh Toyota Motor Corp.

Sementara itu Suzuki Motor Corporation mengambil alih kendali kegiatan manufaktur pada PT Indomobil Suzuki International dengan menambah kepemilikannya menjadi 90% dari sebelumnya 40%, dan sisanya 10% dimiliki oleh Indomobil Sukses International. Untuk kegiatan distribusi kemudian ditangani oleh PT Indomobil Niaga International

Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM)

Astra dan Indomobil adalah dua group terbesar perusahaan otomotif di Indonesia yang menjalin kerjasama dengan beberapa prinsipal dunia menjadi Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) untuk penjualan di Indonesia.

Astra saat ini menangani beberapa merek baik Asia maupun Eropa yang berada dibawah ATPM-nya masing-masing yaitu: Toyota, Daihatsu, Isuzu, Nissan Diesel dan Peugeot.


Demikian juga Indomobil Group yang saat ini menangani sembilan merek kendaraan bermotor antara lain Suzuki, Volvo, Audi, Nissan, Ssangyong, Mazda, Hino, Renault dan VW Caravelle. Selebihnya merupakan ATPM yang berdiri sendiri yang tidak tergabung dalam group usaha.

Selain itu terdapat beberapa ATPM yang menjadi agen untuk beberapa merek mobil. PT Garuda Mataram Motor ATPM untuk Audi dan VW Caravelle, PT Nasional Motor Company juga memegang keagenan merek Mazda dan Hino, kemudian PT Daimler Chrysler Indonesia untuk merek Mercedes, Chrysler dan Jeep. Dan terakhir PT Grandauto Dinamika yang menjadi agen merek Bentley, Daimler, Jaguar, Roll Royce.

Sementara itu VW Caravelle yang merupakan produk pabrikan Volkswagen keagenannya tidak berada dibawah PT Car & Cars Indonesia yang merupakan ATPM Volkswagen di Indonesia, karena telah lebih dulu didaftarkan oleh PT Garuda Mataram Motor saat masuk ke Indonesia ketika dibutuhkan untuk keperluan KTT APEX tahun 1992. Dan saat ini PT Car & Cars Indonesia hanya mengageni passenger car/sedan.

Produk otomotif di Indonesia terbagi menjadi dua kategori yaitu: Kendaraan penumpang dan kendaraan niaga. Kendaraan penumpang terbagi menjadi tiga yaitu: Sedan, MPV 4x2 dan SUV 4x4 yang masing-masing dibagi lagi berdasarkan besarnya kapasitas mesin.

Sementara itu untuk kendaraan niaga terbagi menjadi tiga jenis yaitu : Bus, Pick Up/Truk dan Double Cabin 4x2/4x4 selanjutnya masing-masing jenis dibagi lagi berdasarkan berat kendaraan (Gross Vehicle Weight).

Kapasitas Produksi

Beberapa ATPM ada yang masih berperan ganda sebagai produsen dan juga sebagai distributor, tetapi ada juga yang memisahkan kegiatan manufaktur dan penjualannya dalam perusahaan yang berbeda, seperti PT Toyota Astra Motor yang kini hanya menangani penjualan karena kegiatan manufakturnya ditangani oleh PT Toyota Motor Manufakturing Indonesia (TMMIN) sejak juli 2003 yang sahamnya 95% dimiliki Toyota Motor Corporation dan 5% dimiliki PT Astra Internasional.

Sementara itu Suzuki Motor Corporation meningkatkan kepemilikannya pada PT Indomobil Suzuki International yang merupakan ATPM Suzuki di Indonesia. Selanjutnya PT Indomobil Suzuki International hanya menangani kegiatan manufakturnya saja. Sedangkan penanganan distribusinya dilakukan PT Indomobil Niaga International yang berperan sebagai sole distributor.

Beberapa ATPM ada yang tidak memiliki fasilitas perakitan sendiri seperti PT Tjahja Sakti Motor untuk merek BMW, PT Astra France Motor untuk merek Peugeot, PT Pantja Motor untuk merek Isuzu dan beberapa merek lainnya. Mereka kemudian mempercayakan perakitannya pada perusahaan perakitan umum seperti PT Gaya Motor yang bukan merupakan ATPM atau ke perakitan ATPM lain dalam satu group seperti Ssangyong yang merakit kendaraannya di PT Nissan Motor Indonesia yang sama-sama dalam Indomobil Group.

Toyota Manufakturing Indonesia (TMMIN) selama ini mempunyai kapasitas produksi terbesar dalam industri manufaktur kendaraan bermotor di Indonesia yang mencapai 170.000 unit/tahun.

Sementara itu Mitsubishi yang sebelumnya mempunyai kapasitas terbesar kedua dari dua pabrik perakitannya yaitu PT Krama Yudha Ratu Motors untuk kendaraan niaga dan PT Krama Yudha Kesuma Motors untuk kendaraan penumpangnya kini mengalami penurunan karena sejak tahun 2005 PT Krama Yudha Kesuma Motors tidak lagi melakukan kegiatan produksi, akibat merosotnya terus penjualan kendaraan penumpang/sedan Mitsubishi di Indonesia.

Pada 2008 PT. Astra Daihatsu Motor berhasil meningkatkan kapasitas produksi menjadi 211.000 unit per tahun dari sebelumnya 105.000 unit per tahun.

Kemudian pada 2010 ini PT. Astra Daihatsu Motor menrencanakan akan meningkatkan lagi kapasitas produksi dengan dua shift non overtime menjadi 286.000 unit per tahun. Untuk ekspansi ini telah disipakan dana Rp 250 miliar yang akan mulai berpeoduksi awal semester II-2010 hingga tahun 2011.

Tahun 2009 produksi merosot 22,6%



Artikel Terkait:

0 komentar:

Berikan komentar dibawah ini...