15 Jul 2011

Mobil murah Indonesia masih sebatas wacana

Rencana pemerintah menggulirkan proyek mobil murah dan ramah lingkungan (low cost and green car) di Indonesia tampaknya "berat" bisa memperoleh fasilitas tax holiday seperti yang sudah diatur dalam PP Nomor 94 tahun 2010 tentang pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan (PPh) dalam tahun pajak berjalan yang dimaksudkan agar pada akhir tahun pajak tidak terjadi kelebihan pembayaran PPh.

Pasalnya, ada lima kriteria yang harus dipenuhi para investor (produsen mobil) untuk bisa menerima fasilitas itu. Pertama, menanamkan modal di industri baru. Kedua, merupakan industri pionir. Ketiga, tidak mendapatkan fasilitas pajak yang ada sebelumnya. Keempat, memperkenalkan teknologi baru. Kelima, memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional.

Bagi produsen mobil di tanah air, tax holiday sangat menguntungkan karena meringankan pembayaran PPH. Sedangkan PPnBM lebih pada produk yang langsung terkena dampaknya konsumen.

Tampaknya, harapan bakal beredarnya mobil murah di Tanah Air masih harus ditunda. Rencana pemerintah mendorong industri otomotif memproduksi mobil murah seharga 70 jutaan belum bisa diwujudkan tahun ini. Selain belum adanya regulasi, pabrikan dunia yang diwakili kalangan agen tunggal pemegang merek (ATPM) butuh waktu untuk melakukan riset teknologi.

Rencana produksi mobil murah tidak bisa dilepaskan dari tren yang merebak di pasar dunia, khususnya India. Hal itu dipicu oleh kehadiran mobil murah seharga 24 juta rupiah, Tata Nano. Mobil murah yang minim fasilitas itu membidik konsumen kendaraan roda dua yang cukup besar di negara itu. Hal inilah yang juga ingin dilakukan di Indonesia.Namun, berbeda dengan di Indonesia, sulit rasanya mengejar harga mobil seharga 25 jutaan rupiah seperti di India. Hal itu karena tidak ada pabrikan nasional yang eksis sehingga yang menjadi harapan adalah dari kalangan ATPM dengan dukungan insentif pemerintah.

Bagi kalangan pelaku usaha, tentu saja pasar di dalam negeri sangat menggiurkan. Dengan harga termurah mobil saat ini yang seratus jutaan rupiah saja, pasar terus tumbuh. Bahkan, pada 2008, penjualan mobil nasional bisa mencapai 600 ribu unit "Keinginan sejumlah merek untuk memproduksi mobil murah merupakan sebuah hal yang lumrah terjadi. Apalagi ke depannya, pasar di kelas ini sangat menggiurkan. Harga mobil sekarang sudah tinggi, jadi peluang untuk pengembangan mobil murah di Indonesia memang cukup besar," ungkap Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Bambang Trisulo, baru-baru ini.

Pasar mobil murah akan menyasar kelompok masyarakat menengah yang selama ini menggunakan sepeda motor dan sudah merasa butuh memiliki kendaraan yang lebih aman serta menampung banyak penumpang namun secara finansial belum mampu membeli mobil yang beredar saat ini.Pemerintah sendiri sudah menyiapkan kebijakan untuk mendukung mobil murah pada 2010 nanti. Sayang, hingga saat ini, kebijakan baru sebatas draf.

Padahal, menurut Bambang, kepastian kebijakan dan komitmen pemerintah terhadap pengembangan mobil murah ini penting. Pembahasan lebih lanjut memang diperlukan, misalnya mengenai dampak yang timbul jika mobil murah direalisasikan di Indonesia."Selain itu, dari segi penjualan juga harus dibicarakan. Pemerintah, misalnya, mau target penjualan berapa ribu unit," ungkap dia.

Industri penunjang yang selama ini memenuhi kebutuhan kendaraan di Indonesia juga perlu diperkuat sehingga mampu memasok kebutuhan komponen bagi mobil murah tersebut."Industri penunjang harus dimobilisasi karena industri penunjang selama ini diarahkan ke produk mobil dengan level mesin 1.000 cc ke atas, dan ini berarti pabrikan mobil murah juga harus melakukan investasi kim. sebut Presiden Direktur Indomobil Group Gunadi Sindhuwinata. Pemerintah memang terbilang lambat dalam mengeluarkan regulasi terkait pengembangan mobil murah ini di Indonesia. Padahal, isu pengembangan mobil murah

Sudah bergaung sejak beberapa tahun lalu.

"(Aturan) masih perlu dimatangkan lagi. Misalnya soal mesin dan harganya. Kita mau survei pasar dulu, berapa harga yang pantas, karena ada yang usul agar harganya bisa di bawah 50 juta rupiah, ada yang bilang di bawah 100 juta rupiah," ungkap Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Depperin Budi Dharmadi di lakarta, baru-baru ini. Menurut dia, pemerintah tetap berkomitmen mendukung pabrikan yang akan memproduksi mobil murah. Bahkan, pemerintah siap memberikan Insentif guna pengembangan mobil murah dan hemat bahan bakar [Imi- cost car dan eco car) di Indonesia.

Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Johnny Darmawan mengungkapkan pihaknya memang masih menunggu insentif yang akan diberikan pemerintah bagi pabrikan yang membuat mobil murah. Meski begitu, yang diberikan tidak berbenturan atau sinkron dengan kebijakan World Trade Organization atau WTO.

"Itu ide bagus, mobil murah akan menjadi terobosan bagi industri otomotif di Indonesia. Toyota akan ikut, namun mungkin ada tahapan-tahapan yang akan kita pikirkan sehingga mobil murah itu terwujud," kata dia.Sementara itu, "saudaia tua" Toyota, Daihatsu, juga menyatakan siap membuat mobil murah. Saat ini, PT Astra Daihatsu Motor (ADM), pemegang merek Daihatsu di Indonesia, sedang melakukan riset yang mendalam mengenai pengembangan mobil murah tersebut.

"Kami siap saja. Hanya itu kan harus didukung peraturan yang tidak memberatkan industri," sebut Direktur Marketing ADM Amelia Tjandra.Dia memberi contoh produk yang dahulu dijual ADM, yakni Daihatsu Ceria, sebenarnya memiliki harga hanya 30 juta rupiah per unit. Namun, karena pajak yang tinggi di Indonesia, harganya melonjak hingga 60 jutaan.

"Kita siapkan (insentif) dalam bentuk lain yang lebih mengena ke konsumen," ujar Ansari Bukhari, Sekertaris Jenderal Kementerian Perindustrian di Anyer, Banten, akhir pekan. Penghapusan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) yang selama ini dinilai mendongkrak harga jual mobil di level konsumen menjadi suguhan utama pemerintah guna menarik prinsipal otomotif menanamkan investasinya di Indonesia.

Seperti diketahui, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) baru saja memastikan membangun pabrik baru di Karawang, Jawa Barat berkapasitas 100.000 unit senilai Rp2,1 triliun. Proyek tersebut dibangun menurut prinsipal Toyota di Jepang (Toyota Motor Corporation) untuk menggarap proyek low cost and green car di Indonesia.

"Untuk proyek ini, kami tak menerima insentif apapun, karena ini hanya ekspansi kapasitas produksi sehingga kapasitas Daihatsu naik dari 330.000 unit menjadi 430.000 unit pada 2012," komentar Presiden Direktur ADM Sudirman Maman Rusdi.

Berarti, nasib mobil murah Suzuki, yakni R3 atau Honda Brio ada kemungkinan batal masuk Indonesia. Karena Honda sendiri, seperti diutarakan Jonfis Fandy, Direktur Pemasaran dan Layanan Purnajual PT Honda Prospect Motor kepada Kompas.com peluncuran New Accord baru-baru ini, pihaknya masih menunggu seperti apa kebijakan pemerintah.

Standar Tinggi

Selain pabrikan dunia, produk mobil buatan lokal sudah siap unjuk gigi dengan memperkenalkan prototipe kendaraannya. Paling tidak, kini ada empat produk asal Indonesia yang serius menggarap pasar mobil murah, yakni GEA, Kancil, Tawon, dan Fin Komodo. Bahkan Tawon dan GEA siap dengan teknologi menggunakan bahan bakar gas (LPG) yang selain ramah lingkungan, juga dapat mengurangi beban subsidi pemerintah untuk bahan bakar premium dimasa yang akan datang. Selain itu mobil nasional Fin Komodo Offroad produksi PT Fin Komodo Teknologi malahan sudah masuk ke pasar sejak akhir tahun 2008 dengan membidik pasar perkebunan, kehutanan, pertambangan, rekreasi dsb.

Sayang, pemerintah terkesan kurang memberi perhatian terhadap pengembangan merek lokal ini. Bahkan lebih memilih meminta-minta pada pabrikan dunia untuk memproduksi mobil murah di Indonesia.Padahal, produk mobil murah lokal ini bisa dibilang sudah cukup memadai. Bahkan, dari sisi harga jual, Gea (Gulirkan Energi Altematif) produksi PT INKA Madiun serta Tawon produksi PT Supergasindo Jaya hanya dibanderol 45 juta-50 juta rupiah per unit.

Ketua Bidang Teknologi Teknologi Asianusa, Widya Aryadi mengatakan perizinan untuk memproduksi secara massal produk mobil Inka dari Depperin sangat sulit."Regulasi yang ada standarnya terlalu tinggi. Produsen otomotif lokal tentu sulit menyesuaikan diri, terutama menyangkut permodalan," tandas dia, baru-baru ini. (Sumber: Koran Jakarta dan Otomotifnet)



Artikel Terkait:

0 komentar:

Berikan komentar dibawah ini...