31 Jan 2013

Presiden PKS sbg TSK ?

Eng ing eeng…mari kita bahas penangkapan sejumlah pelaku suap kuota daging impor yg kemudian menjadikan Presiden PKS sbg TSK, Setahun yang lalu kami sdh bahas bgmn suap marak terjadi utk mendapatkan kuota daging impor dari menteri pertanian suswono, Saat itu elit PKS Soeripto lah sbg motor dlm transaksi suap utk peroleh kuota daging impor itu. Ketika terbongkar media soeripto tiarap

Kami jg pernah bongkar praktek suap untuk mendapatkan izin pengeluaran daging impor dari Balai Karantina Kementan. Lagi2 elit PKS bermain, Elit PKS sendiri sebenarnya tidak kompak dlm mengelola bisnis haram ini. Ada friksi berbagai kelompok : soeripto, anis, irel, dll rebutan, Namun meski mereka berebut korupsi uang suap utk 90.00 ton daging import tsb, muara uang suap tsb tetap mengalir ke Ketua Dewan Syuro PKS, Total uang suap yg beredar utk rebut jatah kuota daging impor dan suap pengeluaran daging dari Balai Karantina sgt besar, sekitar 500 M, Hal ini disebabkan uang suap yg ditetapkan oleh elit2 PKS kepada importir daging terus naik. Utk kuota mencapai 10-15 ribu/kg, Sedangkan utk biaya siluman pengeluaran daging dari balai karantina kementan dari 2000/kg dinaikan PKS menjadi 5000/kg

Akibatnya ? Importir daging menjerit. Keberatan utk membayar uang suap yg semuanya dibayar di depan kepada elit2 PKS korup itu

Akibatnya ? Volume impor daging menurun drastis. Daging langka, harga melonjak mencapai 90.000/ kg konsumen menjerit, rakyat menderita. Bahkan sampai2 terjadi kasus pemalsuan bakso sapi yang sebenarnya berasal dari daging babi. Ini semua gara2 elit PKS korup itu

Harga daging impor di negeri asalnya yg hanya sekitar 35.000 / kg, melonjak jadi 70-100 ribu/ kg di pasar konsumen indonesia gara2 suap, Elit2 PKS ini tidak peduli dgn penderitaan rakyat indonesia akibat mahal dan langkanya daging sapi. Diotak mereka hnya uang..uang..uang, Elit2 PKS ini tdk peduli dgn gangguan ekonomi makro indonesia akibat kelangkaan daging, inflasi naik dll. Mereka tdk punya hati nurani. Sama halnya dgn produk2 pangan lainnya ; kehancuran produksi pangan (padi, kedelai, jagung dll) disebabkan krna mentan tak becus & korup

Menteri Pertanian Suswono yg juga politisi PKS ini dikenal sbg mafia pupuk, benih, sarana& prasarana pertanian lainnya. Raja Korup, Saking korupnya mentan suswono ini, dia pernah dijebak dan skrg tersandera karena terima suap 10 M dari seorang pengusaha dan direkam

Pimpinan komisi IV DPR pun korup luar biasa. Ketua Komisi IV Romy Romahurmuzzy diduga banyak terima suap dari pengurusan anggaran2, Partai PKS korupsi di Kementan secara masif. Sebelumnya PT. HNW milik kadep PKS diketahui korupsi proyek pengadaan benih (BLBU) 200 M

Elit PKS lainnya yang juga sangat korup dan jadi mafia besar Banggar DPR adalah Anis Matta (sekjen PKS / Wkl Ketua DPR), Kasus korupsi anis matta terkait dgn pemalsuan surat hasil rapat Banggar via Surat DPR tgl 27 Okt 2010 yg dittdnya, libatkan PPID 7.7 T, Sampai saat ini kasus korupsi anis matta itu dipetieskan KPK hny karena Menkeu tdk bersedia jadi saksi karena diancam anis matta

Kasus korupsi Tamsil Linrung jg demikian. Dia yg mengatur korupsi PPID Transmigrasi sebesar 500 milyar jg selamat dari incaran KPK, Sebab itu, dgn penangkapan transaksi suap kuota daging impor ini, KPK dapat mengembangkan kasus ini utk jerat semua elit PKS yg korup, Sudah saatnya KPK lebih berani, tegas dan profesional dlm tangani kasus suap/ korupsi yg melibatkan elit2 PKS ini. Sikat semua !

Pimpinan KPK yang lain harus berani patahkan perlindungan yang diberikan Abraham Samad kepada elit2 PKS yg korup selama ini, Jika perlu, KPK tangkap abraham samad dgn tuduhan menghalang2i upaya pemberantasan korupsi. Buang dia kelaut jika jadi beking PKS

KPK harus berani tangkap Anis Matta, Tamsil Linrung, Irel, Soeripto, Luhfti, Hilmi Aminuddin dll jk mereka terbukti korupsi/terima suap, Bahkan KPK juga harus segera mengusut korupsi ratusan milyar per tahun di Kemen Kominfo terkait proyek2 USO / KSO di BP3TI

Korupsi2 di BP3TI Kominfo melibatkan elit2 PKS adiseno, tyas utomo, tifatul dst. Tangkap semua mereka yg korup tp berkedok ustad itu, Rakyat indonesia sdh muak dgn perilaku elit partai yang mengaku dan menjual islam sebagai tameng korupsi dan kebusukannya

KPK jg jgn lupa awasi dan usut proyek di Kemensos yang selama ini sarat KKN terutama yang menyangkut penyaluran dana utk rakyat miskin, Elit PKS harus disadarkan bhw korupsi dan suap itu tidak sama dengan harta pampasan perang. Itu adalah perbuatan bejat yg dikutuk Allah

Cukup sekian dulu. Semoga KPK dihari2 mendatang terus menindaklanjuti info2 korupsi yang disampaikan masyarakat. Sekian, MERDEKA ! (
Sumber: Alfaqir Ilmi)

Luthfi Hasan Ishaaq, Pendiri PKS yang Akhirnya Menjadi Tersangka KPK

detik.com - Jakarta - Mungkin sebelumnya tak pernah ada yang membayangkan seorang ketua umum PKS menjadi tersangka KPK. Namun, kasus dugaan suap daging impor telah membawa hal yang sulit dibayangkan itu menjadi nyata. Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq menjadi salah seorang tersangka dalam kasus tersebut.

Beberapa pihak, khususnya kalangan internal PKS, seakan masih tak percaya dan sulit menerima Luthfi Hasan dijadikan tersangka oleh KPK. Selain faktor PKS, yang selama ini kerap mengklaim sebagai partai bersih, sosok Luthfi sendiri memiliki track record politik cukup cemerlang, sehingga status tersangkanya membuat kaget banyak pihak.

Luthfi merupakan salah seorang pendiri Partai Keadilan (PK), cikal bakal PKS. Saat partai itu dipimpin oleh Nurmahmudi Ismail, Luthfi duduk sebagai Sekjen.

Pria kelahiran Malang 5 Agustus 1961 itu juga pernah menjabat sebagai Bendahara Umum DPP PKS pada periode kepemimpinan Hidayat Nur Wahid. Selain itu, pria yang menguasai bahasa Arab dan Inggris ini pernah menjadi supervisor pengembangan PKS di Eropa. Jabatan terakhirnya sebelum menjadi Presiden PKS adalah Ketua Badan Hubungan Luar negeri DPP PKS.

Karir Luthfi di DPR dimulai saat terpilih menjadi anggota legislatif periode 2004-2009. Saat itu, alumnus pesantren Gontor ini duduk di Komisi XI DPR.

Luthfi kemudian terpilih lagi menjadi anggota DPR pada periode berikutnya, yaitu 2009-2014. Pada periode keduanya sebagai wakil rakyat, Luthfi masuk ke Komisi I DPR yang menjadi mitra pemerintah di bidang pertahanan dan luar negeri.

Selain menjadi anggota komisi, selama bertugas di DPR, Luthfi juga merangkap beberapa jabatan di alat kelengkapan DPR. Selain sebagai anggota Badan Kerja Sama Antarparlemen untuk Afrika, Eropa dan Organisasi Negara-negara Konferensi Islam, pria yang sempat menetap di Belanda ini juga pernah menjadi Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen 2004-2009.

Luthfi juga menjadi anggota tetap komisi Timur Tengah di International Parliementary Union (IPU). Sebuah organisasi yang beranggotakan anggota parlemen seluruh dunia.

Luthfi menjadi Ketua Umum atau Presiden PKS menggantikan Tifatul Sembiring yang ditunjuk Presiden SBY menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika. Pria yang juga alumnus Ushuluddin Ibnu Saud University dan Fakultas Islamic Studies Salafia University itu merupakan Presiden ke-4 PKS.

Namun karir panjang Luthfi di dunia politik sepertinya akan berujung suram. Rabu (30/1/2013) kemarin, KPK menetapkan Luthfi sebagai salah satu dari empat tersangka kasus dugaan suap daging impor.

"Kita temukan dua alat bukti yang cukup yang bisa dikaitkan dengan salah satu anggota DPR atas nama LHI," kata Jubir KPK, Johan Budi SP, di Kantor KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/1/2013).

Luthfi dijerat pasal 12 a atau b, pasal 5 ayat 2 atau pasal 11 UU No 31 tahun 1999. Saat ini Luthfi masih diperiksa di KPK. Tiga tersangka lainnya adalah Ahmad Fathanah yang disebut sebagai orang dekat Luthfi serta Juard Effendi dan Arya Arbi Effendi dari pihak swasta.

Menyambung penetapan tersangka, posisinya sebagai Presiden PKS terancam dicopot. DPP PKS telah menyerahkan urusan mengenai peralihan kepemimpinan kepada Majelis Syuro PKS.

"Ini semua akan diserahkan kepada Majelis Syuro. Akan dibicarakan masalah ini karena ini domain Majelis Syuro," kata Sekjen PKS, Anis Matta, di Kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Kamis (31/1/2013) dini hari.



Artikel Terkait:

0 komentar:

Berikan komentar dibawah ini...