12 Feb 2013

Ilmuwan dan Spiritualis

Ilmuwan dan spiritualis memiliki kesamaan dalam mencari kebenaran. Semua memerlukan bukti-bukti sebagai dasar penerimaan mereka. Bukti-bukti yang akan mampu diterima oleh akal, pikiran, dan jiwa mereka. Sehingga tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Maka Tuhan senantiasa memperjalankan keduanya,  menujukkan bukti-bukti kebesaranNya kepada kita manusia. Namun kembali siapkah diri kita untuk menerima bukti-bukti tersebut ?. Hehehe..sulit. sangat sulit sekali, setiap jiwa dalam kesibukannya sendiri, sibuk dalam realitas kesibukannya sehari-hari.

Spiritualis sejati seharusnya mampu melakukan implementasi kedalam kehidupan nyata, sebagaimana rekannya para ilmuwan. Sehingga pemahaman mereka (ilmu), akan bermanfaat bagi dirinya dan umat manusia pada umumnya. Spiritualis memiliki keunggulan dalam mereka mendapatkan kebenaran (ilmu), prosesnya lebih cepat dan simple karena mereka langsung ditunjukkan (diperjalankan) oleh Tuhan. Tinggal bagaimana mereka mengolah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Mewujudkannya dalam pengetahuan dan teknologi yang tepat guna, sehingga dengan ini akan mampu meningkatkan taraf hidup umat. Nabi Daud sudah mencontohkan akan hal ini. Hasil ekplorasinya terhadap besi dalam dimensi spiritual, telah di implementasikan kedalam kehidupan nyata. Sehingga besi seperti keadaan sekarang yang kita kenal. Nabi Daud telah memadukan ilmu antara hakekat besi dan syariat besi itu sendiri. Nabi Daud adalah sang Spiritualis sejati dalam alam nyata ini. Dialah yang meletakkan dasar-dasar pengolahan besi, bapak teknologi terbarukan, sehingga peradaban manusia dengan tekhnologi yang sekarang ini.

Kebalikannya para ilmuwan juga diharapkan akan mau memasuki (melakoni) dunia para spiritualis (sufi), sehingga karenanya mereka akan mampu mencari bukti-bukti berdasarkan petunjuk Tuhan. Sehingga mereka memiliki motivasi yang benar. Dalam menguak rahasia alam semesta dan menampilkan kebesaran Tuhan. Jika karakter kedua pengamat ini berada dalam satu wadah. Maka saatnya nantikanlah kebangkitan dunia umat beragama, suatu kaum yang sulit dikalahkan oleh kaum manapun. Baik dalam teknologi maupun dalam keyakinan dan keimanan mereka. Bukankah hal ini yang kita idam-idamkan. Sebagaimana nabi Daud dengan segenap teknologi dan kejayaannya.

Maka tidak seharusnya bagi kita umat Islam untuk menolak kehadiran teknologi. Sebab teknologi adalah kebesaran Allah yang dinampakkkan kepada manusia, melalui proses kesadaran manusia itu sendiri yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam suatu tahapan SKENARIO ALLAH. Diturunkan kepada kesadaran manusia, oleh karenanya bisa kepada siapa saja. (yaitu) Siapa saja yang menyiapkan dirinya, melakukan pengamatan terhadap alam semesta, baik mereka itu Yahudi, Nasrani, Budha, Hindu ataupun Islam sendiri.

Karenanya umat Islam sebaiknya mulai introspeksi diri lagi. Kenapakah ilmu pengetahuan (technology) diturunkan kepada orang-orang Yahudi ?. Maka yang benar adalah bukan diturunkan kepada mereka namun diturunkan kepada KESADARAN manusia yang kebetulan berada di dalam raga itu. Yaitu KESADARAN manusia yang mau IQRO (membaca) alam semesta. Tidak peduli kesadaran tersebut berada dalam raga siapa. Inilah hakekat yang harus kita sikapi dengan bijak. Sehingga kita terhindar dari sifat-sifat iri, dengki atau lainnya. Apalagi ada yang samapai berniat akan menghancurkan peradaban teknologi manusia. Karena dianggap produk diluar islam. Semoga kita dijauhkan dari sikap kekanakan seperti ini.



Artikel Terkait:

0 komentar:

Berikan komentar dibawah ini...