14 Feb 2013

Kartel otomotif mematikan kemandirian industri otomotif nasional

Seperti halnya dengan negara-negara tetangga ASEAN antara lain Malaysia dan Thailand, nasib industri mobil nasional Indonesia tidak tumbuh menjadi kompetitor dunia seperti layaknya Toyota, Honda, Suzuki, Mitsubishi, KIA, atau Hyundai.

Sudah tidak ada lagi cerita tentang mobil atau motor nasional, yang ada motor atau mobil Jepang. Tamat cerita tentang kemandirian industri otomotif nasional yang berarti juga tamat jargon nasionalisme kemandirian teknologi dan industri.

Beban hutang luar negeri yang berat, tekanan IMF era Soeharto, tekanan liberalisasi Bank Dunia, tekanan kartel internasional manufaktur industri otomotif Jepang yang dengan mudah mengendalikan kebijakan politik di Indonesia, itulah antara lain penyebab gulung tikarnya kemandirian industri otomotif nusantara.

Industri assembling mobil yang tumbuh subur di negara kita bukanlah penyumbang devisa negara, tetapi merupakan penguras devisa negara yang nyata. Industri manufaktur mesin nasional yang tidak inovatif dan kompetitif menjadikan komponen-komponen mesin tetaplah terdiri dari 70-90 persen komponen import, inilah penyebab devisa negara terkuras di sektor belanja konsumen yang terus menerus digenjot oleh neo-kapitalisme dunia.

Semua negara di dunia ini sudah begitu gemetarnya dengan harga minyak dunia yang melambung tinggi dengan semakin habis terkuras cadangan minyak dunia. Negara kita harus membayar mahal terus menerus subsidi BBM yang sangat menguras devisa negara sementara hutang luar negeri terus menerus bertambah.

Tidak ada alasan lagi pemerintah melindungi industri assembling mobil-mobil lisensi dengan harga-harga yang melambung tinggi dengan harga standar Rp 100 juta s/d Rp 200 juta. Kalau kita dapat mengimpor mobil dengan harga mulai Rp 25 juta atau membuka keran mobil bekas impor dengan harga Rp 25 juta s/d Rp 50 juta, kenapa tidak dilakukan pemerintah sekarang.

Pada saat ini pemerintah seharusnya sudah memulai menumbuhkan industri mobil-mobil listrik melalui kerja-sama patungan seperti Cina-Amerika atau Perancis-India baru-baru ini. Industri mobil listrik harus benar-benar diperhatikan dalam dekade ke depan, jika tidak bangsa ini akan tergilas oleh ekonomi biaya tinggi dari BBM yang semakin mahal, biang polusi dan kebisingan yang parah, kartel industri otomotif penguras devisa negara.

Mobil listrik bukanlah lompatan besar teknologi yang mahal, tetapi suatu kemauan kemandirian bangsa melihat masa depan kebutuhan alat transportasi yang lebih hijau bersahabat bagi bumi.

Jika produksi massal mobil listrik sudah dimulai dengan perlindungan regulasi pemerintah maka semuanya akan berjalan dengan baik, demikian pandangan CEO Renault-Nissan baru-baru ini.

Tetapi jika kebijakan pemerintah jangka panjang
masih bisa terus menerus dibeli oleh kekuatan politik neo-liberalisme, maka tunggulah saatnya kehancuran dari akumulasi ekonomi biaya tinggi dari mobil-mobil BBM minyak bumi ini.(Sekar-Mas News -
Mohamad SM)



Artikel Terkait:

0 komentar:

Berikan komentar dibawah ini...