14 Mar 2013

Dicky Zainal Arifin: buku Trilogi Arkhytirema

Dalam jagat buku Indonesia, sepertinya novel ini kurang bergema. Setidaknya teman teman di Blogger Buku Indonesia belum ada yang mereview buku ini. Mungkin karena kita tidak bisa mendapatkannya di rak toko-toko buku terkemuka. Karenanya mungkin dikategorikan sebagai buku indie. Dan kepada buku indie.... sahabat sahabat blogger biasanya jadi kurang bersahabat.

Tidak terliput, bukan berarti tidak bergigi. Malah dalam komunitas kecil, kehadirannya sempat membuat hiruk pikuk. Novel ini dianggap 'menyimpang'. Buku ini memang akrab dalam komunitas Hikmatul Iman, komunitas yang ditukangi oleh Dicky Zainal Arifin, pengarang buku ini. Tapi juga akrab di komunitas yang kritis terhadap Hikmatul Iman. Kelompok terakhir ini yang menuduh novel ini 'cenderung sesat'.

Dari sudut ide cerita, saya melihatnya sebagai lebih dari bagus. Ide ide sama yang melahirkan cerita sekaliber Harry Potter atau Twilight-nya Stephenie Meyer. Itu adalah cerita tentang dunia tersendiri, dunia alternatif yang hidup ditengah dunia keseharian kita. Eh, ternyata ada dunia penyihir! Ada juga dunia drakula dan serigala! Mereka membaur di antara kita. Dan mendengar cerita kehidupan mereka, kita setengah mati jatuh cinta. (Mungkin karena kehidupan keseharian kita sendiri memang sudah pada taraf membosankan.)

Kita menjalani hidup dengan pemahaman sebagai umat dan keturunan nabi Adam. Kita hidup dalam masa paling modern dalam peradaban bumi. Bagaimana kalau buku ini menunjukan selama ini kita..... keliru?! Bagaimana kalau selama ini kita diawasi sesuatu yang... diluar jangkauan kita. Sesuatu yang berasal dari peradaban masa lalu, peradaban nenek moyang yang melahirkan monumen monumen besar semisal piramid.
Entah dari mana Dicky menggali ide cerita ini. Masa neolitikum adalah masa 10.000 SM yang ditandai dengan berakhirnya banjir besar. Kalangan agama menyebutnya sebagai peristiwa Nuh (Noah). Sejarawan sepakat menjadikan momen ini sebagai mulainya peradaban dimana manusia mulai menetap dan bercocok tanam. Masa sebelum 10.000 SM dianggap sebagai masa kegelapan. Tapi, benarkah demikian?

Beberapa artefak yang ditemukan mulai mematahkan asumsi 'masa kegelapan' ini. Dengan berani Dicky mengklaim bahwa pernah hidup satu peradaban besar yang menjadi nenek moyang bangsa Nusantara. Mereka dikenal dengan bangsa Lemurian. Bangsa Lemurian dikenal sebagai penguasa teknologi tinggi yang sudah terbiasa dengan perjalanan antar planet, antar galaksi. Mereka berkomunikasi dalam bahasa Sunda (!) walau lebih banyak dalam format telepati alih alih komunikasi verbal. Jumlah mereka tidak lebih dari satu juta jiwa. Mereka tinggal dalam rumah rumah berbentuk piramid dengan sumber energi kristal. Wanita wanita Lemurian melahirkan bayi mereka dengan teknik waterbirth. Wilayah Lemurian kemungkinan adalah lembah di Samudra Pasifik, sebelum wilayah itu menjadi samudra setelah banjir besar. Jadi letaknya memang dekat dengan Nusantara. Mereka penganut monotheisme.

Cerita dimulai dengan kelahiran bayi Arkhytirema. Sebuah kelahiran yang spesial karena waktunya bersamaan dengan sejajarnya 12 planet dalam satu garis lurus. Akibatnya sang bayi tumbuh di luar kebiasaan. Ia menjadi bayi super. Saya membayangkannya percis seperti bayi Kal El yang melahirkan Superman.

Sebagaimana tradisi Lemurian, ia digembleng dengan sekolah khusus ala Lemurian dibawah bimbingan seorang profiler. Digembleng dari planet ke planet. Akhirnya sampai pada tahun terakhir di kelas Gamma. Ia lulus dengan minat yang dalam akan asal muasal manusia. Ini dia pertanyaan yang bikin bingung profilernya : kalau memang penghulu manusia masih eksis, dimanakah kini Adam berada? bagaimana saya bisa menuju ke sana untuk membuktikannya? Sebuah pertanyaan yang bikin 'Dewan Pakar' Lemurian turun tangan. Seluruh penduduk kota gaduh.

Akhirnya demi menyelamatkan 'karir' anak ini, Dewan Pakar setuju untuk melepas Arkhytirema melakukan kelana Galaksi demi cita citanya menemui Adam penghulu manusia. Dia mesti loncat dari satu 'portal waktu' ke portal waktu lainnya untuk meraih keinginannya itu. Petualangan yang membawanya mengenal bangsa bangsa alien dan konflik di antara mereka. Tercapai kah cita citanya?

Buku ini merupakan buku pertama dari trilogi Arkhytirema. Dicky Zainal Arifin dikenal sebagai guru utama (suhu?) perguruan tenaga dalam Hikamatul Iman di Bandung. Selain itu dia adalah healer dengan memanfaatkan tenaga murni manusia. Rupanya kepiawaiannya mengolah tenaga dalam membawanya pada metoda timetravel yang memungkinkan orang bolak balik dari masa lalu - masa kini - masa depan. Hmm. Anda boleh berdebat tentang masalah ini. Yang jelas bahan bahan novel ini kelihatannya digali dari hasil implengan-nya itu.

Yang jelas, menurut saya, Dicky bukan novelis. Terlepas dari ide novel yang brilian, novel ini belum lah menjadi novel sesungguhnya. Novel novel besar selalu menyimpan misteri atau kejutan yang disimpan hingga lembar terakhir. sebuah penguakan yang menjadikan pembacanya tercenung. Sebuah closing yang membuatnya buah bibir para penggila buku. Saya menjagokan Dan Brown untuk hal ini. Buku Dicky terlalu datar, tanpa misteri, tanpa kejutan. Padahal potensi itu ada dan sangat besar pada alur cerita ini. Misalnya tokoh 'Adam' dapat dikemas lebih misterius. Atau dijadikan sebagai 'Dumbledore', kepala sekolah yang bikin jutaan pembaca Harry Potter terharu biru di kisah akhir.

Buku ini berpotensi menjadi Harry Potter atau twilight yang mengekspose romantika sekolah. Pelajaran sihir dan ramuan, kisah cinta Harry-Harmione-Ron, dan kegilaan orang Inggris akan soccer, menjadikan Harry Potter menjadi buku paling ditunggu buku berikutnya. Begitu juga Twilight. Namun Arkhytirema miskin teman teman sekolah dan terlalu super untuk jadi anak anak. Kenakalan kenakalan khas anak anak menjadi hilang begitu saja. Buku ini lebih concern pada proses aliran 'tenaga dalam' tubuh dan bagaimana tenaga dalam yang terolah menimbulkan dampak yang luar biasa (tidak salah, sih).

Demikian pula saat petualangan antar planet dimulai. Buku ini tidak membuka ruang untuk Arkhytirema menjadi manusia biasa 'seperti kita kita'. Atau layaknya Superman remaja saat di Smallville. Dia selalu ditampilkan dengan cara gagah saat singgah di planet baru. Bertempur tanpa pernah kalah. Kadang pembaca merindukan saat sang Hero datang sebagai orang biasa dan berbaur dengan masyarakat barunya. Menikmati kuliner mereka, menyeruput secangkir espresso, menjalin 'hubungan' dengan gadis lokal, menelusuri gang gang kota, sampai akhirnya terlibat konflik dan menjadi pahlawan secara alamiah.

Saya merasa terganggu dengan penulisan dengan huruf huruf besar tiap nama dalam buku ini. Arkhytirema selalu ditulis dengan ARKHYTIREMA. Begitu juga dengan nama nama lain. Begitu pula kata BARQHA yang merujuk pada portal waktu selalu ditulis dalam huruf kapital. Bayangkan bila dalam satu halaman harus menyebut begitu banyak nama orang, maka halaman itu dipenuhi banyak huruf kapital. Sangat mengganggu. Plus sebenarnya nama Arkhytirema yang panjang dan susah itu bisa sekali kali dipanggil dengan bung Arkhy saja, kan?

Saat resensi ini ditulis, buku keduanya sudah terbit. Sambil menunggu buku ketiga, saya usul ke Kang Dicky bagaimana kalau buku ketiga anda didampingi seorang cowriter, seorang novelis berpengalaman yang dapat memberikan sentuhan 'sebuah' novel. Agar novel ini lebih greget. Agar misi moralitas anda dapat dikemas lebih halus tanpa kesan menggurui. Agar novel ini menjadi lebih... WOW! (esa nugraha putra)



Artikel Terkait:

0 komentar:

Berikan komentar dibawah ini...